Di sebuah desa, di kaki gunung
Slamet, kala itu tahun 1988. Sebuah keriuhan tengah tergelar, pemilihan kepala
desa, dimana salah satu calonnya adalah kakak perempuan saya. Di tengah pesta
kecil demokrasi, ada “keriuhan” lain. Nun di sisi utara di puncak gunung Slamet,
pijaran merah terlihat meski tidak terlalu jelas. Para sesepuh bilang, “Ana ndaru….wah, sing ketiban ndaru, kue sing
bakal dadi lurah!”. Sebuah kalimat yang diucapkan dalam dialek Banyumasan,
yang kurang lebih berarti, “Ada ndaru,
yang kajatuhan ndaru yang bakal jadi
lurah!”.
![]() |
Gunung Slamet (dok. Anazkia) |
Daru atau dibaca ndaru kurang
lebih bermakna keberkahan dari kahyangan. Bagi siapapun yang ketiban ndaru (kejatuhan ndaru) dianggap
dialah yang akan mendapatkan berkah atau menjadi pemenang. Siapa yang kemudian ketiban ndaru saat pemilihan kepala desa
tersebut, kakak saya atau rivalnya? Secara harfiah, baik kakak saya ataupun
rivalnya, bisa dianggap ketiban ndaru
semua. Rivalnya yang akhirnya terpilih, kakak saya usai pemilihan mendapat
berkah hamil anak ke-4. Namun secara fisis, tentunya tak satupun dari keduanya ketiban ndaru gunung Slamet. Justru akan
membahayakan jika “ndaru” ini
benar-benar jatuh. Mengapa? Karena apa yang disebut sebagai ndaru di puncak gunung Slamet di medio
Juli 1988 itu sesungguhnya adalah pijaran lava hasil erupsi gunung Slamet.
Gunung Slamet memang acapkali
“memberikan berkah” berbarengan dengan pesta demokrasi. Pada 1988 tersebut,
selain sedang berlangsung pemilihan kepala desa di beberapa daerah di wilayah
sekitar kaki gunung Slamet, juga berlangsung Sidang Umum MPR 5 tahunan pasca
Pemilu 1987. Erupsi berikutnya pun terjadi berbarengan dengan gelaran pemilu
tahun 1999, 2009, dan 2014. Pemilu 2004, rupanya Slamet sedang ingin berdiam
diri, tak ikut dalam keriuhan demokrasi. Maka, wajarlah jika beberapa sesepuh di daerah kakak saya tinggal
menanggapi dengan santai erupsi Slamet pada awal Maret ini. “Ah, biasalah,
kalau ada pergantian Presiden, biasa ikut meramaikan.” Mereka yang berpendapat
seperti ini adalah kelompok masyarakat yang mengandalkan ilmu titen. Titen alias mengamati kebiasaan/karakteristik gunung, memahami,
sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Bukankah metode yang diterapkan oleh PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi) pun sesungguhnya adalah ilmu titen? Bedanya, jika para masyarakat awam di sekitar gunung hanya niteni tanda-tanda alam yang kasat mata
saja, maka PVMBG selain pengamatan mata didukung dan dikorelasikan dengan
keilmuan dan teknologi.
Tentu tidak semua masyarakat
percaya begitu saja prinsip niteni
ini. Bencana alam yang terjadi secara beruntun, sempat pula melunturkan
kepercayaan terhadap ilmu titen.
Ditambah hembusan berita (hoax) yang marak dan sangat cepat tersebar melalui
teknologi internet, semakin membuat sebagian masyarakat di sekitar dihantui
kecemasan dan panik. Bahkan, seringkali informasi resmi dari PVMBG didramatisir
oleh pihak-pihak tertentu. Seperti saat terjadi letusan Kelud Pebruari lalu.
Masyarakat di sekitar Slamet sempat dibuat panik, demi mendengar letusan Kelud “menular”
ke Slamet. Betul memang, tak lama kemudian Slamet “muntah”. Tapi berkali-kali
para geolog dan vulkanolog menegaskan, setiap gunung memiliki karakteristik
sendiri-sendiri, tidak terkait antara satu dengan yang lain. Status
kegunungapian tak jarang membuat orang justru cemas. Sebagai contoh, status
gunung Anak Krakatau saat letusan gunung Kelud kemarin. Banyak yang mengira,
status waspada Anak Krakatau baru
disematkan saat itu, padahal status ini sudah diberlakukan sejak penghujung
2012 dan hingga kini belum diturunkan menjadi level siaga. Level I, level II, dan seterusnya, juga masih banyak yang
awam memahami, sehingga muncul istilah rancu. Anak Krakatau yang statusnya waspada (level II), dipahami sebagai waspada
pada tingkat II dan seolah ada istilah waspada level I. Yang benar bagaimana? Kalau level II ya berarti waspada, level III itu siaga, dan
level IV berarti awas. Sedangkan
jika dikatakan sebagai level I,
artinya berstatus aktif. Memang,
penulisan status gunung api diikuti dengan tingkat level dalam angka romawi. Aktif (level I), waspada (level II), siaga
(level III), dan awas (level IV).
Frasa kata meletus pun acapkali kelewat didramatisir. Meletus identik dengan
letusan dahsyat yang mampu meluluhlantakan segalanya. Padahal, terdapat bermacam
tipe letusan gunung api. Mulai dari jenis material yang dilontarkan, intensitas
letusan, hingga kekuatan letusan. Berdasar kekuatannya dibagi dari letusan
lemah hingga letusan kuat. Lemah kuatnya letusan tergantung pada jumlah kandungan
magma dalam tubuh gunung yang hendak dimuntahkan. Dalam vulkanologi ada istilah
skala VEI (Volcanic Explosivity Index), sebuah skala yang digunakan untuk
mengukur kekuatan letusan dan jumlah lontaran materialnya. Singkatnya, belum
tentu sebuah letusan gunung menghancurleburkan wilayah sekitarnya dengan
lontaran material yang dahsyat. Letusan inilah yang sesungguhnya terjadi pada
gunung Slamet awal Maret ini dan sebelumnya. Sebuah letusan yang masuk kategori
lemah, dengan lontaran material relatif sedikit dan tinggi lontaran tidak
tinggi, sehingga membuat material vulkaniknya hanya jatuh di sekeliling badan dan
di kawah gunung. Dalam vulkanologi diistilahkan sebagai letusan Strombolian,
letusan yang membuat tubuh gunung kian meninggi. Letusan Strombolian
mengindikasikan kecilnya tekanan gas vulkanik yang mengakibatkan letusan
tergolong kecil.
Menarik jika kemudian kita
mengkaji tipe letusan gunung Slamet sejak letusan tahun 1772 (letusan yang
pertama tercatat dalam literatur). Hampir tiga abad terakhir, letusan gunung
Slamet termasuk letusan yang biasa-biasa saja. Relatif kalem dibandingkan
letusan gunung Kelud atau Merapi. Meskipun dianggap mungkin pernah meletus hebat
pada ribuan atau puluhan ribu tahun yang lalu. Mungkinkah ada kaitan dengan
penyematan nama “Slamet” yang
berasal dari kata Salamatan yang
berarti keselamatan, sehingga gunung ini (diharapkan) selalu memberi keselamatan?
Entahlah. Yang jelas, sebelum menyandang nama Slamet, gunung ini bernama Gunung
Agung yang juga disebut Pasir Luhur
seperti tertulis dalam naskah sunda kuno.
mudah-mudahan tidak ikut ikutan gunung kelud :)
BalasHapussalam
http://www.jobhuntingcenter.com