Tragedi jatuhnya pesawat
Sukhoi Superjet 100 pada hari Rabu, 9 Mei menghenyakkan banyak orang. Pesawat
yang terbilang “fresh from oven” ini
menabrak lereng gunung Salak, meledak, dan hancur berkeping-keping. Berbagai
spekulasi tentang jatuhnya pesawat pun muncul di muka publik. Ada yang
menganggapnya sebagai upaya sabotase, human
error, hingga masalah alam yang tak bersahabat.
LAPAN (Lembaga Antariksan dan
Penerbangan Nasional) sendiri sempat melansir tentang kondisi awan saat hari H
jatuhnya pesawat. Dimana menurut data satelit terlihat adanya awan cumulonimbus
(CB) yang cukup tebal saat itu. Awan ini merupakan awan penghasil hujan yang
cukup membahayakan penerbangan, karena bisa diikuti dengan munculnya kolom arus
udara turun yang disebut sebagai downburst. Kondisi ini dapat
menghempaskan pesawat ke bawah dengan kecepatan cukup tinggi.