Jumat, 16 November 2012

Ketika Benda-Benda Langit Ini Sejajar

Rabu, 14 November 2012 kemarin, sebuah peristiwa astronomis terjadi. Gerhana matahari total. Gerhana ini memang tidak dapat disaksikan dari Indonesia bagian tengah dan barat, hanya wilayah timur seperti, Jayapura, Kupang, Maluku, Ambon, dan Ternate yang dapat menyaksikannya meski tidak secara lengkap. Seperti halnya gerhana matahari yang lain, gerhata matahari Rabu kemarin juga akan diikuti dengan gerhana bulan. Tepatnya, 28 November 2012 nanti akan terjadi gerhana bulan penumbra.

Fase awal saat bulan perlahan menutupi piringan matahari, foto diambil dari Maitland Downs, Queensland, Australia (foto Robert Hollow/CSIRO)


Puncak gerhana matahari total, difoto dari Maitland Downs, Queensland, Australia. (foto Robert Hollow/CSIRO)
Secara geometri, proses terjadinya gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari adalah karena adanya kesejajaran tiga benda langit, bulan-Bumi-matahari. Ketika bulan berada di titik simpul atau mendekati simpul saat berada di fase konjungsi, maka terjadilah gerhana matahari. Sedangkan jika terjadinya saat bulan berada di fase oposisi, gerhana bulan yang terjadi. Simpul sendiri adalah titik potong antara lintasan ekliptika dengan garis lintasan bulan.

Diagram gerhana matahari saat bulan di fase konjungsi (Fred Espenak/mreclipse.com)

Diagram gerhana bulan saat bulan di fase oposisi (Fred Espenak/mreclipse.com)
Hal menarik yang sering dikaitkan dengan gerhana adalah terjadinya bencana alam semacam gempa. Beberapa peristiwa gempa memang terjadi bersamaan atau setidaknya berdekatan dengan terjadinya gerhana. Tapi tidak perlu terburu-buru untuk mengklaim bahwa gerhana yang menyebabkan gempa bumi terjadi. Gempa bumi tidak selalu terjadi saat gerhana, dan tidak semua gerhana diiringi peristiwa gempa. Jika dikaitkan dengan resultan gaya gravitasi Newton yang dikerjakan saat matahari dan bulan sejajar, mungkin ada sedikit (dan nilainya pun kecil) kontribusi pemicu gempa, namun yang jelas gerhana bukan sumber terjadinya gempa.

Fenomena sejenis, saat planet-planet sejajar juga acapkali dikaitkan dengan bencana. Mulai dari isu bahwa sinar matahari akan terhalang beberapa waktu, tertutup oleh posisi planet-planet ini. Juga isu bahwa gaya gravitasi akibat kesejajaran planet sanggup membuat lempengan Bumi bergeser berpindah posisi hingga 180 derajat. Isu yang dihembuskan oleh para konspirator kiamat versi suku Maya dan Nibiru, yang didukung dengan ramalan astrolog semacam Nancy Lieder. Para astronom sendiri hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum heran.

Jika kita kaji dari sudut pandang keilmuan, isu yang dihembuskan tersebut sangat tidak beralasan. Seberapa besar Venus dan Merkurius terlihat dari Bumi hingga mampu menghalangi sinar matahari ke Bumi? Venus sering terlihat seperti titik kecil di dekat bulan sabit, dengan ukuran bulan terlihat berlipat kali lebih besar. Meski faktanya, ukuran Venus yang hampir sama besar dengan Bumi tentunya jauh lebih besar dari ukuran bulan. Jarak antara Venus-Bumi dan bulan-Bumi yang kemudian menyebabkan bulan terlihat jauh lebih besar daripada Venus. Sekalipun Venus sejajar dengan Bumi dan matahari seperti saat peristiwa transit Venus, 6 Juni 2012 lalu, si "bintang kejora" ini tak sanggup membuat siang hari menjadi temaram seperti yang dilakukan bulan saat gerhana matahari! Justru yang terlihat adalah, setitik noda di piringan matahari yang bergerak dari tepi piringan yang satu menuju tepi piringan yang lain. Apalagi Merkurius, yang ukurannya jauh lebih kecil dari Venus dan jaraknya pun lebih jauh ke Bumi. Jadi, bagaimana mungkin sejajarnya planet-planet ini menggelapkan Bumi?

Bagaimana dengan isu pergeseran lempeng Bumi akibat gaya tarik planet-planet saat berada pada posisi sejajar? Gaya tarik yang dikerjakan setiap benda bermassa pada dasarnya adalah gaya interaksi yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antar  benda. Karena gaya merupakan besaran vektor, maka pada posisi sejajar resultannya dapat bernilai maksimum. Ini sesuai dengan hukum gravitasi Newton. Manakah anggota tata surya yang memiliki massa terbesar? Matahari tentunya. Disusul oleh Jupiter dan planet-planet gas yang lain. Sedangkan benda langit yang cukup besar menghasilkan gaya tarik dan terdekat dengan Bumi adalah bulan. Kita analisa satu per satu.
Anggota tata surya (space.com)
 Massa matahari sekitar 300.000 kali massa Bumi. Dengan massa sebesar ini dan berada pada jarak rata-rata sekitar 150 juta km, gaya interaksi matahari-Bumi menghasilkan nilai paling besar. Apalagi jika dijumlahkan dengan gaya interaksi bulan-Bumi, saat bulan berada pada fase konjungsi. Bulan meski hanya memiliki massa 0,012 massa Bumi, tapi karena jaraknya yang cukup dekat (sekitar 384 ribu km), nyatanya menghasilkan gaya interaksi seribu kali lebih besar dibandingkan gaya tarik yang dikerjakan Jupiter terhadap Bumi! Meskipun resultan gaya tarik planet-planet jovian (kelompok planet-planet gas), yang notabene ukurannya lebih besar dari planet terrestrial, jika dibandingkan dengan gaya tarik yang dikerjakan matahari, tetap tidak ada "apa-apanya". Nilainya masih lebih kecil. Jadi, rasanya klaim kesejajaran planet menimbulkan pergeseran lempeng tidak bisa diterima dari sudut keilmuan. Justru gaya tarik yang dikerjakan benda-benda langit tersebut terhadap Bumi membuat posisi Bumi relatif stabil di lintasannya dan bergerak mengikuti kaidah hukum Kepler. Bukankah tidak ada sesuatu yang menghebohkan dunia, ketika pada April 2011, enam planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Uranus, dan Neptunus) berada pada posisi sejajar?

Bagaimana dengan gaya tidal atau gaya pasangnya? Gaya tidal memang mengakibatkan tinggi permukaan air di Bumi naik, dan lagi-lagi hal ini dipengaruhi oleh gaya tarik yang dikerjakan bulan dan matahari. Adakah pengaruhnya terhadap kenaikan lempeng? Meskipun permukaan tanah merasakan pengaruh gaya tidal, tetapi pengaruhnya tidak sebesar seperti gaya pasang terhadap permukaan air. Susunan molekul benda padat lebih rapat dibandingkan susunan molekul benda cair. Faktanya pula, diantara benda-benda langit di sekitar Bumi, justru bulanlah yang memiliki pengaruh gaya tidal terbesar dibandingkan yang lainnya karena jaraknya yang paling dekat. Itu sebabnya, mengapa pasang surut air laut mencapai nilai terbesar saat purnama atau saat bulan baru (fase oposisi dan konjungsi). Bukankah purnama dan bulan baru selalui kita lalui tiap bulan bukan?

3 komentar:

  1. saya mau nanya dong,gerhana matahari paling besar kita alami pada saat kapan?
    gerhana bulan?
    bulan purnama?
    bulan sabit?
    atau kapan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. gerhana matahari hanya terjadi saat bulan berada di fase bulan baru mas, kalo gerhana bulan pd saat fase bulan purnama. maksud plg besar, besar dlm arti bgmn ya? maksudnya terlihat besar dlm segi ukuran?kalo dlm segi ukuran ya kalo gerhana bulannya pas supermoon

      Hapus